My Family

My Family
Palembang, Mei 2013

Rabu, 14 April 2010

Kapsul untuk Kesehatan Pria

Sumber; Sriwijaya Post - Jumat, 2 April 2010

Back to nature, begitulah tren dunia saat ini untuk tetap menjaga kesehatan dan kebugaran. Kembali ke alam dengan khasiat herbal dari tanaman menjadi solusi untuk tetap sehat tanpa efek samping.

PT Pharmasi Binangkit Majalengka Indonesia sangat memahami keinginan pasar tersebut. Karena itu perusahaan yang memiliki izin BPPOM, No Reg POM SD. 081 335 111, memproduksi Spartax, kapsul herbal yang bermanfaat untuk kesehatan, khususnya bagi pria.

Spartax mampu menambah energi dan mempercepat pemulihan stamina sehingga jika dikonsumsi akan menjadikan ereksi lebih kuat serta ejakulasi lebih lama.

Bagi yang mengalami gangguan disfungsi ereksi karena faktor usia atau karena kelelahan, maupun yang diakibatkan penyakit seperti diabetes mellitus, depresi, dan juga penyakit yang lain, Spartax dapat membantu mengembalikan kemampuan seksual. Dan jika digunakan secara rutin, berangsur-angsur kemampuan seksual akan pulih seperti sedia kala.

Sebagai kapsul yang terbuat dari hasil ekstraksi beberapa tanaman herbal pilihan, Spartax tidak mengandung Bahan Kimia Obat dan tidak akan menyebabkan ketergantungan.
Berkualitas

Spartax merupakan kapsul dengan hasil yang menakjubkan. Dibuat dari hasil ekstraksi tanaman-tanaman herbal berkualitas, yang telah dimanfaatkan selama ribuan tahun di Cina, Korea dan Thailand karena khasiatnya untuk kesehatan, menambah energi dan untuk mempercepat pemulihan stamina. Setiap bahan yang digunakan benar-benar dipilih yang berkualitas, kemudian diekstraksi, lalu diproduksi dengan menggunakan mesin yang modern.sripo.

Spartax dibuat dari hasil ekstraksi beberapa tanaman herbal pilihan, seperti Epimedium, Panax ginseng dan Butea superba.

Epimedium
Epimedium selama ribuan tahun sudah digunakan di China sebagai pemacu gairah dan meningkatkan kemampuan seksual yang alami (natural afrodisiak).

Panax ginseng
Panax ginseng telah digunakan di Korea dan China selama ribuan tahun karena berbagai macam khasiat seperti mempercepat proses pemulihan stamina, meningkatkan kadar testosteron dan meningkatkan kualitas ereksi.

Butea superba
Butea superba secara tradisional sudah digunakan di Thailand selama berabad-abad karena manfaatnya untuk meningkatkan libido serta dalam mengontrol dan mempertahankan ereksi.seipo

Cara Mengkonsumsi Spartax
Diminum 2 jam setelah makan atau dalam keadaan perut kosong; Diminum  2 jam sebelum melakukan aktivitas; Diminum dengan 1 gelas/ lebih air putih.

 

Jumat, 09 April 2010

Menguap Bisa Menular


Oleh: Vera Farah Bararah - detikHealth

Tanpa disadari seringkali saat melihat orang lain menguap akan ikut-ikutan menguap. Bukan karena latah kalau yang melihat ikutan menguap, karena menguap memang bisa menular.

Menguap adalah tindakan refleks yang terjadi pada semua orang, biasanya dilakukan untuk menghirup udara dalam jumlah banyak dan diikuti dengan pernapasan.

Tindakan refleks ini seringkali dikaitkan dengan stres, kelelahan, terlalu banyak kerjaan, kebosanan dan mengantuk. Menguap juga bisa terjadi bila ada kelebihan karbondioksida atau kelangkaan oksigen dalam aliran darah.

Studi terbaru menunjukkan menguap bukan saja sebagai tanda seseorang ingin tidur. Tapi tujuan menguap untuk mendinginkan otak sehingga dapat beroperasi lebih efisien dan membuat seseorang tetap terjaga.

Tapi kenapa ketika seseorang menguap yang melihatnya juga ikut menguap?

"Kami berpikir penyebab menguap itu menular karena dipicu oleh mekanisme empatik yang berfungsi untuk menjaga kewaspadaan kelompok. Karenanya menguap adalah tanda empati," ujar seorang peneliti Dr Gordon Gallup, seperti dikutip dari BBCNews, Kamis (8/4/2010).

Penyebab lain menularnya menguap karena aktifnya sistem saraf cermin (mirror neurons system) yaitu neuron yang terletak di bagian depan setiap belahan otak vertebrata tertentu.

Ketika menerima stimulus (rangsangan) dari spesies yang sama, maka spesies tersebut juga akan mengaktifkan daerah yang sama di otak. Hal inilah yang menyebabkan seseorang akan menguap jika melihat oang lain menguap.

Sistem saraf cermin ini bertindak sebagai penggerak untuk meniru dan bertanggung jawab terhadap pembelajaran manusia. Karenanya menguap sering dianggap sebagai cabang dari impuls (gerakan) tiruan yang sama.

Jika pusat dari sistem neuron cermin tidak aktif saat melihat seseorang menguap, maka hal ini tidak akan memiliki hubungan dengan keinginan merespons untuk menguap.

Semakin kuat seseorang ingin menguap, maka semakin kuat aktivasi dari bagian otak periamygdalar kiri. Hasil temuan ini merupakan tanda neurofisiologis pertama yang mengungkapkan bahwa menguap bisa menular.

Daerah periamygdalar adalah zona yang terletak di samping amigdala dan struktur bentuknya seperti kacang almond yang terletak jauh di dalam otak.

Aktivasi beberapa bahan kimia yang ditemukan di otak, misalnya, serotonin, dopamin, glutamin, asam glutamat dan oksida nitrat, dapat pula meningkatkan frekuensi menguap. Sedangkan beberapa bahan kimia lain seperti endorfin justru bisa mengurangi frekuensi menguap.

Jika seseorang menguap, maka ada tahapan yang terjadi adalah:

1. Dimulai dengan mulut terbuka

2. Rahang bergerak ke bawah

3. Memaksimumkan udara yang mungkin dapat diambil ke dalam paru-paru

4. Menghirup udara

5. Otot-otot perut berkontraksi

6. Diafragma didorong ke bawah paru-paru

7. Terakhir beberapa udara ditiupkan kembali.


Beberapa studi menunjukkan manfaat dari menguap yaitu dapat menstabilkan tekanan di kedua sisi gendang telinga atau mirip dengan peregangan, melenturkan otot dan sendi pada tubuh serta meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung.

Kamis, 08 April 2010

Ingin Menghindar dari Stroke, Cukup Berjalan Cepat


Sumber: Republika_Kamis, 08 April 2010

Berjalan adalah salah satu aktivitas sehari-hari yang tampak biasa. Padahal, berjalan merupakan salah satu cara untuk menghindari serangan stroke yang mematikan, terutama bagi kaum hawa. Demikian sebuah penelitian mengungkap.

Wanita yang mengatakan mereka berjalan cepat, memiliki risiko 37 persen lebih rendah mengalami stroke dibandingkan yang tidak berjalan. Wanita yang melaporkan berjalan minimal dua jam per hari setiap minggu dengan kecepatan bervariasi berhasil menekan risiko stroke hingga 30 persen, ujar studi yang dipublikasikan secara online pada jurnal stroke American Heart Association.

Sementara, aktivitas fisik menurunkan risiko stroke, studi lainnya memfokuskan untuk meneliti latihan jenis apa yang mungkin paling bermanfaat untuk wanita. "Penelitian itu benar-benar mengungkap, berjalan dengan waktu tertentu dan khususnya berjalan cepat," ujar pemimpin studi dari Harvard School of Public Health di Boston, AS.

Yang dimaksud dengan berjalan cepat ialah ketika seseorang berjalan, maka ia masih mampu berbicara. "Namun, tidak bernyanyi," tambahnya.

Penelitian itu melibatkan 39.000 wanita pekerja dalam kondisi sehat berusia 45 tahun atau lebih tua. Mereka ditanyakan secara berkala mengenai aktivitas fisik. Selama 12 tahun, sebanyak 579 wanita terkena stroke.

Selain berjalan, peneliti juga mengamati aktivitas seperti berlari, berenang dan bersepeda. Namun, para peneliti tidak menemukan kaitan antara kegiatan tersebut dengan mengurangi risiko stroke.

Peneliti mengatakan, mungkin jumlah partisipan tidak mencukupi untuk mengetahui perbedaannya. Atau, mngkin juga, aktivitas dalam tahap sedang, lebih efektif menurunkan tekanan darah tinggi, yang merupakan faktor utama dari stroke.

"Saya pikir yang sangat menggugah adalah aktivitas tahap sedang dapat efektif mengurangi stroke," ujar Dr. Anand Rohatgi, seorang Kardiolog dari University of Texas Medical Center di Dallas.

Selain tekanan darah tinggi, faktor risiko dari stroke antara lain penyakit jantung, diabetes tipe 2 dan obesitas. "Hal-hal yang terkait langsung dengan stroke dapat diperbaiki dengan aktivitas fisik. Semuanya akan berhubungan," terangnya.

Dr. Tracy Steben, Direktur Saint Luke's Muriel I. Kauffman Women's Heart Center di Kansas mengatakan, studi itu dapat membantu masyarakat untuk melihat manfaat olahraga untuk menstabilkan tekanan darah. "Memang membutuhkan kerja keras, namun bukan berarti harus dilakukan dengan mahal," katanya.

Senin, 05 April 2010

Alat untuk Deteksi Virus Dengue dari UGM


Sumber: Republika, Kamis 04 Februari 2010

Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM), khususnya Tim Dengue, mengembangkan alat yang spesifik untuk mendeteksi virus dengue di dalam darah seseorang yang menderita demam berdarah.

"Alat ini metodenya berbeda dengan Rapid Diagnostic Test. Kalau Rapid Diagnostic Test metodenya imunokromatografi, sedangkan metode yang kami gunakan imunositokimia,'' ujar salah seorang angota Tim Dengue, Dr drh Sitti Rahmah Umniyati, SU pada Republika, Kamis (4/2).

Alat yang digunakan oleh Tim Dengue untuk mendeteksi virus dengue ini menggunakan metode imunositokimia dengan antibodi monoclonal yang ditemukan oleh Prof Djokowahyono, Prof Sutaryo, dan Sitti Rahmah Umniyati, sehingga antibodinya diberi nama DSSC7. DSS berasal dari huruf depan nama ketiga penemu tersebut, sedangkan C7 karena antibodi monoclonal yang tumbuh di baris C7.

Menurut Titik, panggilan akrab Sitti Rahmah Umniyati, alat ini bisa mendeteksi sejak pasien menderita panas atau demam di hari pertama. Dalam waktu tiga jam sudah bisa diketahui hasilnya. ''Antibodi monoclonal tersebut kami beri nama sejak tahun 2009,'' tutur dia.

Selama ini Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM telah melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang menderita panas atau demam di hari kedua, ketiga, dan keempat. Tapi, lanjut dia, sebetulnya sejak hari pertama demam, justru akan lebih bagus karena virus dengue paling banyak terlihat saat pasien terinfeksi.
''Yaitu selama dua hari sebelum panas sampai dua hari selama panas,'' jelas dia.

Biaya untuk mendeteksi virus dengue sangat murah sekitar Rp 25 ribu untuk sekali tes. Jadi, Titik menambahkan, dengan alat itu pasien yang dicurigai menderita demam berdarah tidak perlu menunggu panas tiga hari dulu baru dicek darahnya.

Tes tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2009, tapi baru sebatas dari teman dekat dan keluarga di lingkungan Fakultas Kedokteran UGM. ''Kalau ada masyarakat umum yang mau tes di sini juga bisa, di hari kerja dari pukul 08.00-16.00 WIB,'' tandasnya.

Minggu, 04 April 2010

Cegah Skizofrenia Ala Manusia Purba

Sumber: Republika, Rabu 05 Agustus 2009

 

Skizofrenia atau gangguan jiwa psikotik dikenali dengan ciri-ciri seperti hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi. Seringkali diikuti dengan keyakinan yang salah (delusi) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). Gangguan semacam itu sebenarnya bisa diatasi dengan cara tradisional tanpa obat-obatan.

Penulis buku Langkah-Langkah Mengatasi Depresi Tanpa Obat-obatan dan Psikolog asal Universitas Kansas, Stephen Ilard mengatakan, setiap orang bisa melindungi diri dari penyakit jiwa dengan mengikuti langkah dari para pendahulu kita. Diaa juga meneliti apa yang membuat manusia modern sangat cepat terkena stres.

"Dalam kehidupan modern, lingkungan kita secara berkesinambungan mengaktifkan bagian respon stres yang terdapat di otak," ujar dia.
Kehidupan manusia modern dibombardir dengan berbagai berita tragis, luapan informasi serta kebutuhan interpersonal lainnya. Beberapa bagian di otak bereaksi seakan ia terkena infeksi, yang dampaknya, si penderita akan menarik diri dari lingkungan sosial, menderita radang, dan berpotensi mengalami kerusakan otak di bagian hippocamus, frontal korteks dan basal ganglia.

Peradangan adalah cara tubuh untuk melindungi diri dari infeksi. Namun jika ini berlanjut maka, dapat mengakibatkan akibat yang cukup fatal, seperti jika menderita liver dan resistensi terhadap insulin.

Penyakit mental seperti skizofrenia, depresi, autisme dan gangguan bipolar semuanya diasosiasikan dengan peradangan di bagian otak. Penyakit-penyakit itu seolah diasosiasikan sebagai konsekuensi kehidupan modern. Padahal kehidupan nenek moyang kita tidak bisa dibilang bebas stres. Mereka juga memiliki berbagai faktor yang membuat mereka tertekan seperti berburu dan berbagai permainan berbahaya.

"Namun nenek moyang kita memiliki penangkal yang membuat otak mereka tidak merespon terhadap stres, sebuah kebiasaaan yang di negara-negara maju sudah dianggap kuno," paparnya.

Contoh kecil, jika pemburu menghadapi babi hutan, mereka menghadapi dengan melawan, misalnya saja dengan batu besar. Perlawanan fisik akan membuat efek yang bisa menimbulkan radang menjadi terhenti,

Banyak penyakit mental disebabkan oleh masalah dengan kimiawi dalam otak, maka pendekatan pengobatannya pun dilakukan dengan bahan-bahan kimia. Padahal perilaku juga bisa mengubah kimiawi dalam otak. Ilardi dan beberapa koleganya membuktikan, mencontoh perilaku manusia gua malah lebih efektif dibanding pengobatan konvensional dengan obat-obatan.

Pencegahan
Ada beberapa cara yang diungkap oleh Ilardi untuk mencegah penyakit jiwa seperti skizofrenia dan semacamnya, yang diadopsi dari manusia purba, antara lain :

Menyeimbangkan asupan zat omega. Keseimbangan ideal antara Omega 6 dan Omega 3 adalah 1 banding 1. Lemak yang ditemukan dari Omega 6 cenderung mempercepat terjadinya peradangan, melewati batas darah dalam otak dan memicu respon depresi. Sedangkan Omega 3 yang terdapat pada Salmon, kacang walnut yang mengandung unsur anti radang dan bisa memecahkan siklus stres-peradangan.
Tidur lebih banyak. Seabad lalu rata-rata orang Amerika tidur selama 9 jam sehari. Akhir-akhir ini menurut National Sleep Foundation di AS, kebanyakan orang tidur kurang dari 7 jam per hari, tren yang berjalan seiring dengan menurunnya kesehatan mental. Tidur selama 8-10 jam per hari bisa membuat tubuh dan pikiran Anda kembali pulih.

Cari dukungan. Dahulu kala, nenek moyang kita bangga jika menjadi yang terbaik dalam satu bidang, misalnya saja pemburu angsa terbaik diantara 50-100 orang di lingkungannya. Di desa global seperti zaman sekarang dengan populasi 6,5 miliar orang tidak ada orang yang benar-benar terbaik di bidangnya. Menemukan lingkungan yang sesuai, yakni lingkungan yang suportif, dipercaya bisa memberi dampak positif pada ego seseorang.
Hindari repetisi. Memfokuskan pada masalah memang bisa membantu kita mencari solusi. Namun ketika kita menghadapi stres yang berulang, maka akan mengikis kemampuan kita untuk bisa pulih kembali. Memikirkan dengan panjang lebar, menurut Ilardi, biasa terjadi ketika kita sedang sendiri. Kebalikannya, kebiasaan manusia purba jarang beraktivitas sendirian. Beraktivitas bersama-sama bisa menyetop seserang dari berpikir terlalu panjang.

Beraktifitas fisik. Nenek moyang kita memang tidak melakukan olahraga, namun kegiatan sehari-hari mereka seperti menggali tanah atau mengangkut hewan buruan, membangun pondok dan sebagainya membuat mereka selalu aktif secara fisik. Studi menunjukkan olahraga selama 90 menit sama efektifnya dengan obat penenang Zoloft.

Berjemur. Semua orang tahu bahwa berjemur memang menyenangkan, meskipun jika berlebihan dapat memicu penyakit. Sinar matahari yang mengandung vitamin D dapat mencegah radang dan dapat mengurangi stres.

Sabtu, 03 April 2010

Manusia yang Menyukai Neraka


Oleh: Prof Dr Ali Mustafa Yaqub

Ketua sebuah pengajian meminta maaf kepada penceramah karena jamaah yang hadir dalam pengajian tersebut tidak banyak. Ia semula mengharapkan agar jamaah yang datang dapat mencapai ribuan orang, tetapi ternyata hanya ratusan orang. Ia khawatir apabila penceramah kecewa dengan jumlah yang sedikit itu.

Apa komentar penceramah tersebut? Ia justru bersyukur dan tidak merasa kecewa. Katanya, ''Memang calon penghuni surga itu jumlahnya lebih sedikit dibandingkan calon penghuni neraka.'' Ia pernah membaca koran bahwa di Ancol diadakan pagelaran maksiat. Yang hadir dalam pesta kemungkaran itu mencapai 700 ribu orang. Kendati pesta itu dimulai jam delapan malam, pengunjung sudah mulai datang sejak jam satu siang.

Penceramah kemudian bertanya kepada para hadirin, ''Apakah ada pengajian yang dihadiri oleh 700 ribu orang?'' Hadirin pun serentak menjawab, ''Tidak ada.'' Ia kemudian bertanya lagi, ''Apakah ada pengajian yang dimulai jam delapan malam, tetapi jamaahnya sudah datang jam satu siang?'' Hadirin kembali serentak menjawab, ''Tidak ada.'' Penceramah kemudian berkata, ''Itulah maksiat, dan inilah pengajian. Kalau ada pengajian dihadiri oleh ratusan ribu orang, boleh jadi pengajian itu bermasalah.''

Ia juga mencontohkan dakwah Nabi Nuh AS. Beliau berdakwah selama hampir seribu tahun, tetapi pengikut beliau hanya 40 orang. ''Karena itu, kalau yang datang di pengajian ini mencapai ratusan orang, itu sungguh sudah bagus. Dan, begitulah calon-calon penghuni surga,'' tambahnya.

Lebih jauh, ustaz yang masih muda itu menyampaikan sebuah hadis tentang apa yang akan terjadi pada hari kiamat. Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa nanti pada hari kiamat, Nabi Adam AS akan dipanggil oleh Allah SWT. Beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk memisahkan anak-cucunya, mana yang akan masuk surga dan mana yang akan masuk neraka. ''Ternyata,'' kata Nabi Muhammad SAW selanjutnya, ''Dari seribu anak-cucu Adam, 999 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan) masuk neraka, dan hanya satu yang masuk surga.''

Ia kemudian mengajak jamaah untuk mengamati perilaku manusia setiap hari. ''Coba kita amati kehidupan manusia sehari-hari. Kita lihat mereka di pasar, pusat perbelanjaan modern atau mal, televisi, dan di mana saja. Ternyata lebih banyak yang senang bermaksiat daripada yang taat kepada Allah SWT.
Orang bohong, penipu, ada di mana-mana, sementara yang shalat di masjid sepi-sepi saja. Ternyata manusia itu lebih menyukai neraka daripada surga.''

Jumat, 02 April 2010

Rokok Bisa Bikin IQ Jongkok


Sumber: Republika, Rabu, 31 Maret 2010

Rokok telah lama terbukti memiliki efek negatif untuk tubuh, dengan mendatangkan berbagai gangguan kesehatan. Misalnya, penyakit paru-paru dan jantung. Kini, penelitian juga membuktikan, merokok dapat mempengaruhi tingkat intelegensi (IQ).


Riset itu mengungkap, remaja yang kecanduan rokok umumnya memiliki tingkat intelegensi jauh lebih rendah ketimbang sejawatnya yang tidak merokok. Tak sampai disitu, remaja yang merokok sebungkus sehari memiliki tingkat intelegensi 50% lebih rendah ketimbang teman-temannya yang tidak merokok.

Dari hasil riset diketahui, 20.000 remaja dengan usia 18-21 tahun yang merokok memiliki skor IQ 94 sebaliknya remaja yang tidak merokok memiliki skor IQ 101. Sedangkan, perokok yang menghabiskan rokok sebungkus perhari memiliki skor IQ 90.

Pemimpin tim peneliti dari Sheba Medical Center, Tel Hashomer Hospital, Dr. Mark Weiser mengatakan hasil riset belum menggambarkan secara jelas apakah aktivitas merokok mengakibatkan intelegensi seseorang menurun atau sebaliknya individu dengan tingkat intelegensia rendah justru gemar merokok.

"Riset ini benar-benar menampilkan apa adanya. Kami melihat adanya sekat tipis antara intelegensia dan merokok,"tukasnya seperti dikutip dari dailymail.co.uk, Selasa (30/3).

Ia menjelaskan, skor dari tes IQ pada remaja pria yang merokok kemudian dibandingkan dengan remaja pria yang tidak merokok dan dibandingkan kembali dengan adik atau kakaknya. Hasil perbandingan itu menunjukan remaja pria mulai merokok mulai dari umur 18 hingga 21 tahun.

"Sangat jelas bahwa masyarakat dengan intelegensi rendah memilih untuk merokok. Tidak peduli dengan status ekonomi mereka, apakah terhitung miskin atau kurang pendidikan," tegasnya.

Weiser menduga hasil riset seharusnya dapat dikonfirmasikan bahwa mereka dengan intelegensia rendah cenderung mengabaikan kesehatan mereka. Mungkin saja mereka mengkonsumsi obat-obatan terlarang, makanan tak sehat dan malas berolahraga.

"Riset ini juga bisa digunakan untuk mencegah aktivitas merokok dikalangan remaja dengan ancaman intelegensi mereka bakal menurun," katanya.

Tahun 2004 lalu, peneliti dari University of Aberdeen menduga ada keterkaitan antara merokok dengan menurunan fungsi mental. Dari ratusan sukarelawan yang ambil bagian pada riset yang berlangsung tahun 1947, saat mereka berusia 11 tahun, mereka kemudian diikutsertakan kembali dalam riset lanjutan ditahun 2004. Hasilnya diketahui bahwa perokok memiliki performa yang jauh lebih buruk ketimbang mantan perokok dan individu yang tidak merokok.

Sayangnya, peneliti belum menemukan penjelasan yang pasti tentang hubungan antara lemahnya fungsi paru dengan penuan. Kesimpulan sementara diketahui merokok menyebabkan otak mengalami stres lantaran minimnya pasokan oksigen. Hal itu mengakibatkan kerusakan DNA.