My Family

My Family
Palembang, Mei 2013

Jumat, 31 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Afasia

Afasia adalah kehilangan kemampuan u/ mengekspresikan diri sendiri atau memahami bahasa (Smeltzer. 2002). Masalah yg komplek,beberpa tidak dapat bicara, kesulitan mengingat nama dan kata, mungkin juga tidak mampu mengerti bahasa lisan, menulis,membaca, dan mengenal angka. Penyebab utama adalah stroke, cedera kepala, dan tumor otak, 20% afasia akibat stroke. Lebih dari satu jt di USA(Taylor.et all.1997).

Reading Continue


Rabu, 29 Desember 2010

Askep Endokrin [NILAI AKHIR]

Kepada ibu Ns. Mar'atun Ulaa, S.Kep, berikut NILAI AKHIR Keperawatan Medikal Bedah I, khususnya Asuhan Keperawatan ENDOKRIN. Bagi temen-temen mahasiswa yang mengambil mata kuiah ini, nilai bisa dilihat dan DOWNLOAD disini.

Terima kasih, dan selamat belajar

Rabu, 17 November 2010

Perkembangan Pengetahuan Keperawatan dan Trend Issue


Merujuk kepada Chinn & Kramer (2003), sebelum munculnya keperawatan modernUSA, pada era Nightingale tahun 1900, keperawatan ada dalam berbagai bentuk umum, seperti merawat orang sakit dan orang tidak beruntung. Awal pengetahuan keperawatan didasarkan pada pandangan kesehatan dan penyembuhan yang holistik. Chinn & Kramer (2003) menguraikan perkembangan ilmu pengetahuan keperawatan, terdiri dari a) from antiquity to Nightingale, b) Nightingale Legacy, c) from Nightingale to Science.

Sementara itu, salah satu tren pengetahuan kepeawatan adalah penggunaan teori dari disiplin ilmu lain (utilization of theories borrowed from other disciplines). Contohnya, penggunaan Terapi musik sebagai Complementary Alternative Medicine (CAM). Ilmu musik juga dapat dimanfaatkan oleh keperawatan walaupun di Indonesia hanya sedikit sekali bahkan belum ada yang menggunakannya. CAM klinik menawarkan musik sebagai modalitas pada pasien (Roush, RA, 2003).Menurut Campbell (1997), musik bersifat terapeutik dan bersifat menyembuhkan. Terapi musik telah ditemukan dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan mood pada pasien hematologi yang menjalani transplantasi sumsum tulang (Cassileth et al, 2003),

Reading Continue [DOWNLOAD]

Selasa, 16 November 2010

Asuhan Keperawatan Tuli

Pendahuluan

Tuli atau kurang pendengaran adalah berkurangnya ketajaman pendengaran orang atau penderita. Ketajaman pendengaran dianggap normal bila orang dapat mendengar dengan baik kata-kata yang dibisikkan dalam jarak 6 meter atau 30 meter dengan suara keras. Bunyi dengan frekuensi 16/18/20-20000 Hz merupakan nada murni yg dapat ditangkap oleh telinga normal.

Orang yang menderita kurang pendengaran sedang dan berat mendapat masalah yang besar dalam pendidikan, sosial dan ekonomi. Kurang pendengaran ringan .Mendapat sedikit masalah yang tidak menyenangkan.

Reading Continue === Download

Standar Pelayanan Kesehatan Indra Pendengaran

Pendahuluan

Gangguan pendengaran ( hearing impairment) atau ketulian (deafness) mempunyai dampak yang merugikan bagi penderita, keluarga, masyarakat maupun Negara. Penderita akan mengalami; kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, terisolasi, kehilangan kesempatan dalam aktualisasi diri, mengikuti pendidikan formal di sekolah umum, kehilangan kesempatan memperoleh pekerjaan; à yang pada akhirnya berakibat pada rendahnya kualitas hidup yang bersangkutan.

Sampai dengan tahun 1996 Indonesia belum memiliki angka gangguan pendengaran dan ketulian. Setelah dilakukan Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran (1994–1996) dengan sampel sebesar 19.375 di 7 Propinsi ( Sumbar, Sumsel, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel dan Sulut) baru diperoleh gambaran dari besaran masalah kesehatan telinga dan pendengaran di Indonesia.

Berdasarkan kelompok usia, angka gangguan pendengaran paling besar terdapat pada kelompok usia produktif dewasa (40 - 54 tahun) yaitu 20.8 %. Sedangkan angka ketulian terbanyak pada usia diatas 65 tahun (2.8 %). Data lainnya yang diperoleh dari survai tsb adalah ; Morbiditas - Prevalensi (%) Penyakit Telinga luar = 6.8, Serumen prop = 3.6, OMSK = 3.1, Presbikusis = 2.6, Ototoksisitas = 0.3
Tuli sejak lahir (kongenital) = 0.1

Selengkapnya DOWNLOAD disini


Prosedur Diagnostik Pendengaran

Pendahuluan

Telinga normal mampu mendengar suara dengan frekuensi 20-20000 Hz. Frekuensi 500-2000 Hz untuk memahami percapakan sehari-hari, disebut kisaran wicara. Nada dg fekuensi 100 Hz: nada rendah, 10000 Hz : nada tinggi. Biasanya dilakukan oleh para audiologi atau tenaga terlatih. Audiometer adalah satu-satunya instrumen paling penting. Unit untuk mengukur intensitas suara (keranya bunyi adalah DESIBEL (dB).

Audiometri nada murni

Stimulus suata terdiri dari nada murni atau musik (semakin keras nada sebelum klien bisa mendengar, berarti semakin besar kehilangan pendengaran / tuli)

Download disini

Mengeluarkan Benda Asing

Indikasi

Mengeluarkan benda asing dari telinga dengan cara irigasi, suction, menggunakan alat (direct instrument), atau magnet bila gagal dengan tangan

Perhatian dan Kontraindikasi

Anatomi yang sempit dari saluran telingan eksternal memungkinkan adanya benda asing à percobaan mengeluarkan benda tersebut menyebabkan kerusakan telinga. Kanal telinga sangat sensitif à menyebabkan nyeri. Klien yang mengalami gangguan membran timpani à irigasi merupakan indikasi

Link Download