Satu hal yang pasti dalam KEHIDUPAN adalah KEMATIAN.Diyakini 100% setelah KEMATIAN ada KEHIDUPAN yang ABADI. Agar kehidupan AKHIRAT BAIK, mari jadikan diri kita bermakna bagi UMMAT. Semoga BLOG ini bermanfaat bagi KEPERAWATAN INDONESIA. Insaallah AMIN
Sabtu, 20 Desember 2008
ASUHAN KEPERAWATAN BENIGNA HIPERTROPI PROSTAT
Asuhan Keperawatan Konsep Diri
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PERAWATAN LUKA TERHADAP PENGETAHUAN PASIEN POST OP APENDISITIS DI IRNA BEDAH RSUP Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2008
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang perawatan luka terhadap pengetahuan pasien Post op apendisitis di IRNA Bedah RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Semakin rendah pengetahuan seseorang semakin tidak mengerti akan program pencegahan dan pengobatan suatu penyakit. Penelitian ini menggunakan metode Pre Experimental Design dengan rancangan pra-pasca test yang dilakukan pada tanggal 1-30 Juni 2008, jumlah sampel 30 orang yang didapat secara Accidental Sampling, dan dilakukan analisis secara univariat dan bivariat dengan bantuan sistem komputerisasi dengan menggunakan metode uji wilcoxon. Dari hasil penelitian yang telah dianalisis didapatkan adanya pengaruh yang signifikan antara pemberian pendidikan kesehatan perawatan luka terhadap pengetahuan pasien post op apendisitis (P=0,000). Secara konsep pendidikan kesehatan adalah upaya untuk mempengaruhi atau mengajak orang lain, baik individu, kelompok atau masyarakat agar melaksanakan perilaku hidup sehat. Sedangkan secara operasional pendidikan kesehatan adalah semua kegiatan untuk memberikan atau meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktek masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka. Diharapkan pihak RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dapat meningkatkan pelayanan kesehatan salah satunya melalui pendidikan kesehatan perawatan luka. Untuk keseragaman, pihak Rumah Sakit dapat membuat suatu kebijakan khusus tentang perawatan luka termasuk terhadap pasien post op apendisitis.
Tulang Lansia
Masa tulang mencapai puncaknnya pada usia 35 tahun, setelah itu terjadi kehilangan tulang menyeluruh secara bertahap. Berbagai perubahan metabolik, meliputi penurunan estrogen pada menopause dan penurunan aktivitas, berperan dalam hilangnya masa tulang (osteoporosis). Wanita akan banyak kehilangan masa tulang dibanding pria. Pada usia 75 tahun, rerata wanita telah kehilangan 25% tulang kortikalnya dan 40% tulang trabekularnya. Bila terjadi fraktur, tumbuhnya jaringan fibrus lebih lambat pada lansia.
Pada lansia, struktur kolagen kurang mampu menyerap energi. Kartilago sendi mengalami degenerasi di daerah menyangga tubuh dan sembuh lebih lama, akibatnya terjadi osteoarthritis. Begitu juga masa otot dan kekuatannya juga berkurang. Terjadi kehilangan jumlah serat otot akibat atropi miofibril dengan penggantian jaringan fibrus, yang mulai terjadi pada dekade keempat kehidupan (Smeltzer, 2002). Kebanyak efek proses penuaan dapat diatasi bila tubuh dijaga tetap sehat dan aktif.
Penyembuhan Tulang
Umumnya patah tulang sembuh melalui osifikasi endokondral. Ketika tulang mengalami cidera, fragmen tulang tidak hanya ditambal dengan jaringan parut,, namun tulang mengalami regenerasi sendiri. Mengutip pendapat Smeltzer (2002), tahapan penyembuhan tulang terdiri dari: inflamasi, proliferasi sel, pembentukan kalus, penulangan kalus (osifikasi), dan remodeling.
Tahap Inflamasi. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cidera dan pembentukan hematoma di tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cidera kemudian akan diinvasi oleh magrofag (sel darah putih besar), yang akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri.
Tahap Proliferasi Sel. Kira-kira lima hari hematom akan mengalami organisasi, terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast. Fibroblast dan osteoklast (berkembang dari osteosit, sel endotel, dan sel periosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan (osteoid). Dari periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan tersebut dirangsang oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah tulang. Tetapi gerakan yang berlebihan akan merusak sruktur kalus. Tulang yang sedang aktif tumbuh menunjukkan potensial elektronegatif.
Tahap Pembentukan Kalus. Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan, dan tulang serat matur. Bentuk kalus dan volume dibutuhkan untuk menghubungkan defek secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Perlu waktu tiga sampai empat minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Secara klinis fargmen tulang tidak bisa lagi digerakkan.
Tahap Penulangan Kalus (Osifikasi). Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam dua sampai tiga minggu patah tulang, melalui proses penulangan endokondral. Patah tulang panjang orang dewasa normal, penulangan memerlukan waktu tiga sampai empat bulan. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras. Permukaan kalus tetap bersifat elektronegatif.
Tahap Menjadi Tulang Dewasa (Remodeling). Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun – tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus – stres fungsional pada tulang. Tulang kanselus mengalami penyembuhan dan remodeling lebih cepat daripada tulang kortikal kompak, khususnya pada titik kontak langsung.
Selama pertumbuhan memanjang tulang, maka daerah metafisis mengalami remodeling (pembentukan) dan pada saat yang bersamaan epifisis menjauhi batang tulang secara progresif. Remodeling tulang terjadi sebagai hasil proses antara deposisi dan resorpsi osteoblastik tulang secara bersamaan. Proses remodeling tulang berlangsung sepanjang hidup, dimana pada anak-anak dalam masa pertumbuhan terjadi keseimbangan (balance) yang positif, sedangkan pada orang dewasa terjadi keseimbangan yang negative. Remodeling juga terjadi setelah penyembuhan suatu fraktur. (Rasjad. C, 1998)
Senin, 15 Desember 2008
Ujian Lab Skill
Ujian Lab Skills yang "Mendebarkan"
Bertepatan dengan sehari setelah Lebaran Idul Adha 1429 H yaitu pada hari Selasa 9 Desember 2008, 93 mahasiswa Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Depkes Palembang harus mengikuti serangkaian ujian keterampilan klinik sebagai syarat untuk memulai Praktik Klinik Keperawatan (PKK) di RS dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Semula semua calon praktikan mengungkapkan kekhawatirannya dan mengajukan berbagai pertanyaan "apa yang akan diujikan oleh Tim RSMH Palembang?" apakah setelah ujian mereka akan dinyatakan dapat mengikuti PKK dimaksud. Bagaimana kalau mereka dinyatakan tidak lulus ujian? dan berbagai pertanyaan disampaikan untuk menggali dan menenangkan diri untuk mengikuti ujian Lab Skills tersebut.
Mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok, seperti kelompok yang harus ujian di Ruang RA (Penyakit Dalam Laki-Laki), RC(Penyakit Dalam Perempuan), Ruang Jantung (Kardiologi), Ruang Peduli Kasih (RPK), Komite Keperawatan, Pendidikan dan Pelatihan, dan kelompok yang ujian di Bidang Keperawatan.
Beberapa kelompok harus ujian betul terkait dengan Keterampilan Keperawatan (Nursing Skills) seperti yang dilakukan di RC, beberapa mahasiswa harus praktik memasang infuse, mempraktikkan bed making, dan sebagainya. Tetapi tidak sedikit kelompok yang hanya diresponsi terkait dengan kegiatan praktik keperawatan. Artinya perlu evaluasi substansi ujian Lab Skills, agar tepat sasaran dan berdampak pada proses dan output praktik keperawatan.