My Family

My Family
Palembang, Mei 2013

Sabtu, 20 Desember 2008

ASUHAN KEPERAWATAN BENIGNA HIPERTROPI PROSTAT

Ns. Lukman, SKep.,M.M
 
Batasan
Benigna Hipertropi Prostat adalah pembesaran atau hypertropi prostat. Kelenjar prostat membesar, memanjang ke arah depan ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran keluar urine, dapat menyebabkan hydronefrosis dan hydroureter (Arifyanto D,2008). Benign prostatic hyperplasia (BPH) merupakan pembesaran non-kanker (noncancerous) dari kelenjar prostat (prostate gland) yang dapat membatasi aliran urin (kencing) dari kandung kemih (bladder) (Adel,2008). Prostat Hiperplasia adalah pembesaran glandula dan jaringan seluler kelenjar prostat yang berhubungan dengan perubahan endokrin berkenaan dengan proses penuaan. Kelenjar prostat mengitari leher kandung kemih dan urethra, sehingga hipertropi prostat sering menghalangi pengosongan kandung kemih (Doenges, 2002). Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Benigna Hipertropi Prostat (BPH) adalah pembesaran kelenjar prostat yang  menyumbat aliran keluar urine dan dapat menyebabkan hydronefrosis dan hydroureter.
 
Anatomi dan Fisiologi
Kelenjar prostat terletak tepat dibawah buli – buli dan mengitari uretra. Bagian bawah kelenjar prostat menempel pada diafragma urogenital atau sering disebut otot dasar panggul. Kelenjar ini pada laki - laki dewasa kurang lebih sebesar buah kenari, dengan panjang sekitar 3 cm, lebar 4 cm dan tebal kurang lebih 2,5 cm. Beratnya sekitar 20 gram.
 
Prostat terdiri dari jaringan kelenjar, jaringan stroma (penyangga ) dan kapsul. Cairan yang dihasilkan kelenjar prostat bersama cairan dari vesikula seminalis dan kelenjar cowper merupakan komponen terbesar dari seluruh cairan semen. Bahan – bahan yang terdapat dalam cairan semen sangat penting dalam menunjang fertilitas, memberikan lingkungan yang nyaman dan nutrisi bagi spermatozoa serta proteksi terhadap invasi mikroba (Syaifuddin, 2006).
 
Etiologi
Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. Faktor lain yang erat kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan (Adel,2008).Menurut Smeltzer (2002) , apa yang menjadi penyebab terjadinya pembesaran kelenjar Prostat ini masih tetap menjadi misteri, masih belum diketahui dengan pasti, tetapi banyak juga teori yang ditegakan untuk BPH ini seperti: a) teori tumor jinak (karena komponennya), b) eori rasial dan factor social, c) teori infeksi dari zat-zat yang belum diketahui, d)      teori yang berhubungan dengan aktifitas seks, dan e) teori ketidakseimbangan hormonal. Pendapat terakhir ini sering kali dipakai yaitu terjadi ketidakseimbangan antara hormonal androgen turun, maka terjdi ketidakseimbangan estrogen menjadi lebih banyak secara relatif ataupun secara absolut dan ini menyebabkan prostat membesar.
 
Patofisiologi
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan akan menghambat aliran urin. Keadaan ini dapat meningkatkan tekanan intravesikal. Sebagai kompensasi terhadap tahanan uretra prostatika, maka otot detrusor dari buli - buli berkontraksi lebih kuat untuk dapat memompa urin keluar. Kontraksi yang terus - menerus menyebabkan perubahan anatomi dari buli - buli berupa : hipertropi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula dan difertikel buli - buli.
 
Perubahan struktur pada buli - buli dirasakan klien sebagai keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptom.
Puncak dari kegagalan kompensasi adalah ketidakmampuan otot detrusor memompa urine dan terjadi retensi urine. Retensi urin yang kronis dapat mengakibatkan kemunduran fungsi ginjal (Price,2002).
 
Komplikasi
Komplikasi dari benigna hipertropi prostat menurut Smeltzer (2002), adalah hydroureter, hydronefrosis dan gagal ginjal bila tidak terjadi infeksi serta dapat terjadi hematuria dan cystitis bila terjadi infeksi. Komplikasi lain yang mungkin timbul pada benigna hipertropi prostat menurut Adel (2008), yaitu: hemorrhoid, perdarahan, inkontinensia, uretritis dan traktus uretra, epindidimiorkhitis, trombosis, fistula (suprapubik, rektiprostatik), dan  osteitis pubis
 
Penatalaksanaan
Menurut Smeltzer (2002), terapi untuk benigna hipertropi prostat (BPH) ada 2 macam yaitu konservatif  dan operatif.
Konservatif, terapi konservatif dilakukan bila terapi operasi tidak dapat dilakukan karena misalnya menolak operasi, mempunyai sakit jantung berat dan kontra indikasi operasi lainnya.Terapi konservatif yaitu mengusahakan agar prostat tidak mendadak membesar karena terjadinya atau adanya infeksi sekunder dengan peran antibiotik. Terapi untuk retensi urine yaitu dengan kateterisasi dengan 2 cara:1)      Kateterisasi intermitten, buli-buli dapat dikosongkan dan kateter segera dilepas, beberapa pasien kemudian akan dapat miksi sendiri dengan spontan, dan 2)      Kateterisasi indwiling. sangat berguna terutama bila penderita dulunya juga pernah mengalami retensi urine akut. Tiap hari hendaknya kateter dibersihkan dan tiap minggu diganti dengan kateter baru. Pada tindakan ini hendaknya disertai dengan perlindungan terhadap bahaya infeksi dengan memberikan juga obat sulfa atau antibiotik.
 
Operatif, tindakan operatif:1)      Pernah obstruksi atau retensi berulang, 2)      Urine sisa lebih dari 50 cc, 3)      Pada panendoskopi didapatkan trabekulasi yang jelas.
 
Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah pertama dari proses keperawatan dengan mengumpulkan data-data yang akurat dari klien sehingga akan diketahui berbagai permasalahan yang ada (Hidayat A.A,2007). Adapun pengkajian pada klien Post ops Benigna Hipertropi Prostat menurut Doenges (2002) adalah:
1)      Sirkulasi; ditandai peninggian tekanan darah (efek pembesaran ginjal).
2)      Eliminasi, Gejala:a)      Penurunan kekuatan/dorongan aliran urine tetesan, b)      Keragu-raguan pada berkemih awal, c)      Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekwensi berkemih, d)      Nokturia, dysuria, haematuria, e)      Duduk untuk berkemih, f)        Infeksi saluran kemih berulang, riwayat batu (statis urinaria), g)      Konstivasi (protrusi prostat kedalam rectum), Tanda:a)      Masa padat dibawah abdomen bawah (distensi kandung kemih), nyeri tekan kandung kemih, b)      Hernia inguinalis, hemorrhoid (mengakibatkan peningkatan tekanan abdominal yang memerlukan pengosongan kandung kemih mengatasi tahanan).
3)      Makanan/cairan, Gejala: a)      Anoreksia, mual, muntah, b)      Penurunan berat badan.
4)      Nyeri/kenyamanan, gGejala:a)      Nyeri suprapubik, panggul atau punggung, tajam, kuat (pada prostates akut), dan b)      Nyeri punggung bawah.
5)      Keamanan.
6)      Seksualitas, gejala: a)      Masalah tentang efek kondisi / penyakit kemampuan sexual, b)      Takut inkontinentia / menetes selama hubungan intim.c)      Penurunan kekeuatan kontraksi ejakulasi.
7)      Penyuluhan dan pembelajaran, gejala: a)      Riwayat keluarga kanker, hipertensi, penyakit ginjal, b)      Penggunaan antihipersensitif atau antidefresan, antibiotik urinaria atau gen antibiotik, obat yang dijual bebas, batuk flu/alergi obat mengandung simpatomimetik.
8)      Aktifitas/Istirahat; riwayat pekerjaan, lamanya istirahat, aktifitas sehari-hari, pengaruh penyakit terhadap aktifitas dan pengaruh penyakit terhadap istirahat.
9)      Hygiene; penampilan umum, aktifitas sehari-hari, kebersihan tubuh, frekwensi mandi.
10)  Integritas ego; penngaruh penyakit terhadap stress, gaya hidup, masalah financial.
11)  Neurosensori; apakah ada sakit kepala, status mental, ketajaman penglihatan.
12)  Pernapasan; apakah ada sesak napas, riwayat merokok, frekwensi pernapasan, bentuk dada, auskultasi.
13)  Interaksi Sosial; status perkawinan, hubungan dalam masyarakat, pola interkasi keluarga, komunikasi verbal/nonverbal.
 
Diagnosa Keperawatan
Menurut Nanda (1990) yang dikutip oleh Hidayat A,A (2007), bahwa diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial.  
Adapun diagnosa keperawatan pada pasien Post ops Benigna Hipertropi Prostat yang mungkin timbul (Doenges, 2002) adalah:
1)      Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kencing, refleks spasme otot, sehubungan prosedur bedah ditandai dengan keluhan nyeri spasme kandung kemih, wajah meringis, gelisah akut sehubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang dan cedera jaringan.
2)      Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanik, bekuan darah, edema, trauma, prosedur bedah ditandai dengan frekwensi, urgensi,keragu-raguan, dysuria, inkontinentia, retensi.
3)      Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kesulitan mengontrol perdarahan, pembatasan pemasukan pre operasi, area bedah vaskuler.
4)      Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive kateter, iritasi kandung kemih, seringnya trauma jaringan.
5)      Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat salah interpretasi informasi ditandai dengan pertanyaan meminta informasi, tidak mengikuti instruksi.
 
Intervensi/Implementasi Keperawatan
Perencanaan merupakan suatu proses penyusunan berbagai intervensi keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah, menurunkan atau mengurangi masalah-masalah klien (Hidayat A,A,2007).Rencana  keperawatan pada pasien Post ops Benigna Hipertropi Prostat disesuaikan dengan diagnosa keperawatan (Doenges,2002) yaitu:
1.      Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kencing, refleksspasme otot, sehubungan prosedur bedah ditandai dengan keluhan nyeri spasme kandung kemih, wajah meringis, gelisah akut sehubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang dan cedera jaringan.
Intervensinya:
a)      Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas, skala.
b)      Pertahankan posisi kateter dan system drainase, pertahankan selang bebas dari lekukan da bekuan.
c)      Tingkatkan pemasukan cairan sampai dengan 300 ml/hari sesuai takaran.
d)      Berikan pasien informasi akurat tentang kateter, drainase, spasme kandung kemih.
e)      Berikan tindakan kenyamanan, dorong penggunaan teknik relaksasi, termasuk latihan napas dalam dan visualisasi.
f)        Kolaborasi dalam pemberian antispasmodic.
 
2.      Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanik, bekuan darah, edema, trauma, prosedur bedah ditandai dengan frekwensi, urgensi,keragu-raguan, dysuria, inkontinentia, retensi.
Intervensinya:
a)      Kaji keluaran urine dan system kateter/drainase, khususnya selama irigasi kandung kemih.
b)      Pertahankan waktu jumlah berkemih dan ukuran aliran setelah kateter dilepas, perhatikan rasa penuh kandung kemih; ketidakmampuan berkemih.
c)      Dorong pasien untuk berkemih bila terasa, dorongan tetapi tidak lebih dari 2-4 jam.
d)      Ukur volume residu bila ada keteter suprapubik.
e)      Dorongan pemasukan cairan 3000 ml sesuai toleransi, batasi cairan pada malam setelah kateter dilepas.
f)        Instruksikan pasien untuk latihan permeal, contoh; mengencangkan bokong, menghentikan dan memulai aliran urine.
g)      Jelaskan pada pasien bahwa tetesan diharapkan setelah kateter dilepas dan harus teratur sesuai kemajuan.
h)      Pertahankan irigasi kandung kemih continue sesuai indikasi pada periode pasca operasi.
 
3.      Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kesulitan mengontrol perdarahan, pembatasan pemasukan pre operasi, area bedah vaskuler.
Intervensinya:
a)      Hindari manipulasi berlebihan pada kateter.
b)      Awasi pemasukan dan pengeluaran.
c)      Observasi drainase kateter, perhatikan adanya perdarahan.
d)      Evaluasi warna konsistensi urine.
e)      Merah terang dengan bekuan darah.
f)        Peningkatan viskositas, warna keruh setiap dengan bekuan darah.
g)      Perdarahan dengan tidak ada bekuan.
h)      Inspeksi balutan/luka drain.
i)        Awasi tanda peningkatan nadi dan pernapasan, penurunan tekanan darah, disforesis, pucat, perlambatan pengisian kapiler, membran mukosa kering.
j)        Kolaborasi awasi pemeriksaan laboratorium seperti Hb dan lain-lain.
4.      Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive kateter, iritasi kandung kemih, seringnya trauma jaringan.
Intervensinya:
a)      Pertahankan system keteter steril, berikan zalp antibiotic disekitar sisi kateter.
b)      Akumulasi dengan kantong drainase dependen.
c)      Observasi drainase dari luka sekitar kateter suprapubik.
d)      Ganti balutan dengan sering, pembersihan dan pengeringan kulit sepanjang waktu.
e)      Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
 
5.      Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat salah interpretasi informasi ditandai dengan pertanyaan meminta informasi, tidak mengikuti instruksi
Intervensinya:
a)      Kaji implikasi prosedur dan harapan masa depan.
b)      Tekankan perlunya nutrisi yang baik.
c)      Diskusikan pembatasan aktifitas awal.
d)      Dorong kesinambungan latihan perineal.
e)      Instruksikan perawatan kateter urine.
 
Evaluasi
Menurut Doenges (2000) hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi yang dinginkan dari pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien dengan Post ops Benigna Hipertropi Prostat adalah sebagai berikut:
1.      Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kencing, refleks spasme otot, sehubungan prosedur bedah ditandai dengan keluhan nyeri spasme kandung kemih, wajah meringis, gelisah akut sehubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang dan cedera jaringan.Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi adalah melaporkan nyeri atau terkontrol.
2.      Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanik, bekuan darah, edema, trauma, prosedur bedah ditandai dengan frekwensi, urgensi,keragu-raguan, dysuria, inkontinentia, retensi. Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi adalah berkemih dalam jumlah normal tanpa adanya retensi.
3.      Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kesulitan mengontrol perdarahan, pembatasan pemasukan pre operasi, area bedah vaskuler. Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi adalah tidak terjadinya Kekurangan volume cairan.
4.      Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive kateter, iritasi kandung kemih, seringnya trauma jaringan. Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi adalah tidak terjadinya infeksi dan tidak adanya tanda infeksi seperti pembengkakan.
5.      Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat salah interpretasi informasi ditandai dengan pertanyaan meminta informasi, tidak mengikuti instruksi. Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi adalah menyatakan pemahaman proses penyakit dan berpartisipasi dalam program terapi.

2 komentar:

agnes frissela pardede mengatakan...

makasi banyak bt tulisny
ini bs menmbh referensi KTI q

thank's a lot

Ilham Kurniawan mengatakan...

Terima kasih infonya pak,,, tambah lagi dunk askepnya,,,,,,,kl bs askep tentang anak